Rifa Seorang blogger dan internet marketer asal Sumedang, Jawa Barat. Saat ini aktif mengelola beberapa blog dan berjualan produk fashion secara online.

Kisah Wirausahawan Sukses di Bidang Kerajinan

3 min read

Kisah Wirausahawan Sukses Bidang Kerajinan

Menjadi wirausahawan sukses di bidang kerajinan, memiliki omzet besar, dan mampu membuka lapangan pekerjaan bagi orang disekitar, tentu menjadi mimpi banyak orang.

Namun kesuksesan tidak akan datang pada orang yang hanya diam dan menunggu bukan?

Seperti kata pepatah lama yang sering kita dengar, hasil tidak akan pernah mengkhinati usaha.

Untuk mencapai hasil yang diinginkan, tentu kita harus berusaha keras. Berusaha dan terus berusaha meskipun gagal adalah kunci kesuksesan seseorang.

Seperti kisah perjuangan 3 pengrajin sukses kita berikut ini.

Kisah Tokoh Wirausahawan Sukses di Bidang Kerajinan

KISAH TOKOH WIRAUSAHAWAN DI BIDANG KERAJINAN

1. Dewi Tanjung Sari

Gadis cantik kelahiran Malang, 17 Mei 1978 ini merupakan seorang yatim sejak kecil. Sebagai anak satu-satunya Dewi hanya tinggal berdua dengan ibunya yang bekera sebagai seorang pembantu kala itu.

Hidup tanpa seorang ayah dan kekurangan, tidak menyurutkan tekad dewi kecil untuk mengear cita-cita dan mengenyam pendidikan setinggi-tingginya.

Setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas pada tahun 2003, Dewi melanjutkan pendidikannya ke progam Diploma III Universitas Brawijaya.

Pada saat itu, ibu dewi membuka warung kecil-kecilan untuk mencukupi kebutuhan mereka. Dari sinilah Dewi berinisiatif untuk mencari penghasilan tambahan guna membantu perekonomian keluarganya.

Setiap hari setelah pulang kuliah, Dewi mengumpulkan daun-daun kering disekitar kampusnya untuk kemudian dijadikan kerajinan tangan.

Mulanya dia membersihkan daun-daun yang telah ia kumpulkan, kemudian dikerigkan, lalu dibentuk menjadi bermacam-macam kerajinan seperti kotak pensil, pigura, kotak tissue, dan masih banyak lagi.

Bermodalakn uang sebesar Rp. 50.000, Dewi memulai merintis usahanya ini. Awalnya Dewi memasarkan karyanya melalui teman-teman kampusnya.

Siapa sangka, kalau karya dewi yang dijual di pameran kampusnya itu terjual habis.

Dewi terus menekuni usahanya ini hingga di tahun 2004 dia bertemu dengan seseorang yang mau bermitra dengan De’ Tanjung.

Dewi mulai mengekspor karyanya ke berbagai Negara seperti Hongkong, Singapura, dan Australia. Ia pun mampu memperkerjakan 16 orang dalam menjalankan bisnis kerajinanya ini.

Namun tidak berselang lama, pada tahun 2007 perusahaan ekspor yang bermitra denganya bangkrut. Ditengah kebingunganya memasarkan kerajinan yang telah diproduksi, Dewi menghentikan bisnisnya sementara.

Tapi usahanya tidak berhenti disitu. Dewi bangkit dari krisis dengan mulai meletakkan contoh hasil karyanya di warung dagangan sang ibu. Bersebrangan dengan sebuah kantor, warung ibunya mendatangkan satu pesanan besar untuknya.

Salah seorang pelanggan ibunya tertarik untuk menjadikan karya Dewi sebagai souvenir pernikahnya.

Dari situlah De’ Tanjung bangkit kembali dan mengantarkan Dewi menjadi salah satu pengusaha kerajinan yang sukses dan memiliki omzet jutaan bahkan milyaran.

2. Titik Winarti

Memiliki pandangan lain mengenai para difabel, wanita kelahiran Surabaya, 11 Maret 1970 ini mampu menjadi pengrajin sukses dan inspiratif.

Terlahir dikeluarga seorang pengrajin kayu, kecintaan Titik pada seni sudah mucul sejak kecil, begitu juga dengan jiwa bisnisnya.

Saat duduk di bangku SMA Titik sudah mulai menjual kartu-kartu yang dihias pada teman-temanya. Usahanya ini mendapat respon positif dan membuatnya kebanjiran pesanan.

Hobi membuat kerajinan ini pun ia tekuni bahkan sampai ia sudah berkeluarga. Pada satu momen hari raya, Titik memutuskan untuk medesign ruamhnya dengan karya-karya kerajinan yang ia buat.

Hal ini mendapat antusiasme yang besar dari para tamu yang datang. Dari sinilah Titik memutuskan untuk membuka Tiara Handycraft dan menekuni hobinya ini menjadi bisnis yang serius.

Produk yang ditawarkan Tiara Handycraft pun bermacam-macam mulai dari souveneir pernikahan, aksesoris rumah, hingga souvenir untuk bayi. Mulanya Titik hanya memperkerakan ibu-ibu disekitar rumahnya sebagai bentuk kontribusinya dalam membedayakan perempuan.

Taiara handycraft pun ramai pelanggan dan mendapatkan banyak pesanan.

Sayangnya ujian pasti hadir untuk orang-orang yang berjuang. Sekitar tahun 1998, usaha Titik mengalami kejatuhan dikarenakan plagiarism yang dilakukan seseorang terhadap karyanya. Orang ini merekrut pegawai yang telah dilatih oleh Titik dengan iming-iming gaji yang lebih besar.

Banyak dari karyawanya yang tergoda dan meninggalkan titik dalam kejatuhan usahanya.

Kejatuhanya ini tidak lantas membuatnya berhenti. Atas saran dari seorang teman, Titik beserta sisa karyawanya merekrut para difabel penderita tuna daksa dan melatih mereka.

Melatih para difabel tentunya memerlukan usaha dan kesabaran yang ekstra. Didorong oleh keinginan mulianya untuk memberdayakan para difabel, keuletan Titik membuahkan hasil.

Para penderita tuna daksa ini pun mampu membuat kerajinan tangan dan membantu Titik kembali pada puncak kesuksesan di industri kreatif.

Pada tahun 2002, Titik berkesempatan untuk memamerkan produknya di Jedda dan Singapura. Dari sini, cakupan usaha Titik kembali meluas hingga ke Brazil dan Amerika.

Selain itu, Titik juga berhasil meraih penghargaan atas ushanya memberdayakan difabel. Titik pun didaulat untuk menyampaikan aspirasinya pada forum Internasional PBB.

3. Sunny Kamengmau

Pendidikan memanglah sesuatu yang penting, namun pendidikan bukanlah satu-satunya penentu kesuksesan seseorang.

Bermodalkan ijazah SMP, pria kelahiran Nusa Tenggara Timur ini merantau ke pulau Bali. Di usianya yang ke-18 Sunny tidaak melanjutkan pendidikan SMA nya dan memilih untuk bekerja serabutan di Bali.

Pekerjaan apapun ia lakoni dari mencuci mobil, menjadi buruh renovasi rumah, hingga akhirnya ia menetap sebagai tukang kebun di salah satu hotel di Bali selama satu tahun.

Pada tahun 2002, setelah satu tahun menjadi tukang kebun, Sunny diangkat menjadi petugas keamanan hotel atau security.

Kepribadianya yang senang bergaul membuatnya dekat dengan banyak tamu hotel. Hal ini pun menumbuhkan minatnya untuk belajar bahasa asing seperti bahasa jepang dan bahasa Inggris. Sunny melihat peluangnya sebagai security yang pandai bahasa asing.

Dengan gajinya yang hanya 50.000 rupiah, ia membelikanya sebuah kamus inggris- Indonesia. Kemauanya belajar bahasa asing ini lah yang pada akhirnya mempertemukan Sunnny dengan Nobuyuki Kakizaki, seorang pengusaha sekaligus pemilik Real Point Inc asal Jepang.

Persahabatan yang terjalin selama 5 tahun itu pun membuat mereka berpikir untuk membuka usaha bersama. Keduanya kemudian bekerjasama dalam usaha membuat tas.

Tas handmade nantinya akan dipasarkan ke Jepang karena tingginya minat masyarakat Jepang akan hasil kerajinan buatan tangan. Namun usahanya ini tidak berlangsung mulus.

Pada awal dibentuknya kerjasama itu, mereka sama sekali tidak memiliki target pasar yang pasti. Pembeli pertama mereka pun datang dari Jepang, namun penjualan tetap tidak menunjukan perkembangan yang stabil. Bahkan penghasilan yang di peroleh pun tidak menentu setiap bulannya.

Sembari berusaha merintis bisnisnya, Sunny juga tetap bekerja sebagai security di hotel. Dengan usahanya yang gigih dalam memasarkan tas kulitnya, pada tahun 2007 mereka berhasil dengan stabil memasarkan produknya. Tas Robita, begitu mereka menamai produknya ini.

Produksi tas Robita pun mencapai sekitar 5000 buah setiap bulannya. Stabilnya pemasaran produk mereka ini pun kemudian membuat keduanya yang pada awalnya hanya mampu merekrut 20 orang karyawan saja, bertambah hingga 300 karyawan.

Kehilangan partner berharganya karena kankerparu-paru dan penurunan permintaan pasar akan tas Robita tidak lantas menghentikan Sunny untuk berusaha.

Dengan usaha yang gigih, lelaki paruh baya yang saat itu masih menyewa sepeda motor pun sekarang mampu menjadi seorang pebisnis sukses di bidang kerajinan kulit.

Akhir kata

Sekian cerita inspiratif dari wirausahawan sukses di bidang kerajinan asal Indonesia yang karyanya bisa mendunia. Semoga dapat membantu, terutama untuk Anda yang sedang ingin merintis usaha namun tidak percaya diri dengan kemampuan ataupun finasial.

Teruslah berusaha, karena dimana ada keinginan dan kesungguhan, disitu akan akan terbuka.

Rifa Seorang blogger dan internet marketer asal Sumedang, Jawa Barat. Saat ini aktif mengelola beberapa blog dan berjualan produk fashion secara online.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *