Rifa Seorang blogger dan internet marketer asal Sumedang, Jawa Barat. Saat ini aktif mengelola beberapa blog dan berjualan produk fashion secara online.

Melihat Perkembangan Bisnis Online di Indonesia

3 min read

Perkembangan Bisnis Online di Indonesia Sekarang

Di era industri 4.0 seperti sekarang, kita sangat membutuhkan internet untuk beraktivitas. Dengan segala kemudahan dan sumber daya yang dimilikinya, internet seakan-akan telah mengubah tatanan kehidupan manusia.

Ada banyak hal yang dulu dianggap mustahil, sekarang malah terlihat biasa-biasa saja.

Dulu, sebelum munculnya internet, kita harus membeli barang ke orang lain secara langsung. Harus berjalan, datang ke toko, pilih barang, lalu bayar ke kasir. Sekarang, kita bisa membeli barang dari luar negeri meski kita sedang berada di rumah. Setelah kita membayar secara online, barang akan langsung dikirim ke rumah kita.

Kemunculan internet juga telah dimanfaatkan banyak orang untuk memulai usaha secara online.

Banyak pihak yang memanfaatkan dunia digital dan internet dalam lingkup bisnisnya. Hal ini bahkan menjadi trend yang sangat melekat bagi pelaku usaha zaman sekarang.

Apabila pelaku usaha tidak beradaptasi, maka akan kewalahan dan bisa mengalami kemunduran usaha.

Pengusaha yang tidak punya ‘value’ dan kurang mengikuti perkembangan zaman, omsetnya mungkin akan berkurang karena dilibas kompetitornya.

Maka dari itu, pelaku usaha harus senantiasa berinovasi dan beradaptasi mengikuti perkembangan zaman. Pelaku usaha harus luwes dan berpikiran terbuka.

Semakin cepat melangkah, semakin cepat pula bisnisnya bisa berkembang.

Perkembangan Bisnis Online di Indonesia

Perkembangan bisnis online di Indonesia sendiri terbilang cukup pesat. Buktinya, banyak e-commerce dan toko online baru yang bermunculan tiap tahunnya.

Model bisnis yang diusung juga sangat berbeda dibanding model bisnis konvensional sebelum adanya internet.

Berdasarkan hasil pendataan badan pusat statistik Indonesia pada tahun 2019, sebanyak 45,30% usaha e-commerce di Indonesia mulai memanfaatkan internet pada rentang tahun 2017 – 2018, usaha yang mulai memanfaatkan internet di tahun 2010 – 2016 sebanyak 28,06%, sedangkan yang baru mulai tahun 2019 sebanyak 25,11% dan yang memulainya sebelum tahun 2010 hanya 1,53%.

Perkembangan Bisnis Online di Indonesia - Data BPS
Data selengkapnya, bisa dilihat di halaman resmi bps.go.id lalu unduh publikasi.

Statista mencatat jumlah pengguna e-commerce di Indonesia pada 2017 mencapai 139 juta pengguna, kemudian naik 10,8% menjadi 154,1 juta pengguna di tahun 2018. Tahun 2019 sekiar  168,3 juta pengguna dan 212,2 juta pada 2023.

Data dari statista by databooks.katadata.co.id

Alasan kenapa bisnis online di Indonesia bisa berkembang dengan sangat cepat tentu saja karena jauh lebih efisien dan hemat biaya. Pengusaha bisa mengurangi biaya sewa bangunan, promosi, SDM, dan sektor bisnis yang lainnya.

Saat ini, ada berbagai jenis bisnis online yang hadir di Indonesia. Salah satu jenis bisnis online yang sering dijumpai yaitu jenis bisnis C2C (Customer to Customer), artinya siapa pun bisa menjadi penjual atau pembeli.

Kita bisa menjual hp bekas ke Facebook grup atau membeli hp dari orang lain. Kita bebas bertindak sebagai penjual atau pembeli sesuka hati.

Bahkan jika kita seriusi, jual beli yang kelihatannya sepele bisa menghasilkan untung yang lumayan. Kita bisa mempromosikan produk ke banyak orang menggunakan Facebook Advertising, Google Ads, Instagram Ads, SEO, dan yang lainnya.

Perkembangan bisnis online yang menarik ini kemudian melahirkan berbagai model/jenis bisnis online saat ini.

Berikut beberapa jenis bisnis online yang sedang digandrungi saat ini.

1. Dropshipper

Ini adalah jenis bisnis online yang sangat disukai banyak orang karena bisa dilakukan tanpa modal. Maksudnya tanpa modal itu bukan 100% tanpa modal ya. Melainkan hanya dengan bantuan internet + hp android saja, kita sudah bisa berjualan.

Modalnya sangat minim dan tingkat kerugiannya rendah.

Sistem dropship ini sudah cukup familiar di Indonesia. Cara kerjanya juga mudah.

Kita menjualkan produk dari supplier kepada orang-orang, jika ada transaksi ke kita, selanjutnya kita order produk ke supplier lalu produk langsung dikirim ke pembeli kita.

Dengan begitu, kita tidak perlu melakukan stok produk dan harus menumpuk barang.

Kekurangan dropship tentu saja kita tidak bisa melakukan kontrol langsung terhadap produk yang dijual. Untuk itu, wajib rasanya jika kita membeli produk supplier terlebih dahulu untuk testing. Jika bagus dan supplier pelayanannya bagus, baru kita jadi dropshipper mereka.

2. Affiliate Marketer

Affiliate yaitu mempromosikan produk dari pihak lain dengan sistem bagi hasil. Jika ada orang yang beli lewat link / kode kupon tertentu, maka affiliate marketer tersebut akan mendapatkan komisi.

Besarnya komisi yang ditawarkan juga bervariasi mulai dari 2%-10% tergantung perjanjian awal dengan pemilik produk.

3. Reseller

Reseller sebenarnya mirip dengan dropship, namun yang membedakan yaitu kita harus stok produk terlebih dahulu.

Menjadi reseller juga cukup diminati anak muda jaman sekarang, terutama bagi yang baru memulai usaha. Ada yang jual sepatu, skincare, pakaian, makanan, minuman dan lain-lain.

Di awal-awal pasti kita modal dulu untuk membeli produk ke supplier. Selanjutnya, kita berjualan dan mengirim produk kepada pembeli.

Dengan begitu, kita bisa mengecek kualitas produk yang akan dikirim.

Kelemahan dari reseller yakni saat penjualan tidak sesuai rencana, barang akan menumpuk dan tidak jadi uang cash.

4. Toko Online

Dropship dan reseller bisa dibilang masih sangat tergantung dengan supplier sebagai pemilik barang aslinya. Sedangkan jika punya toko online (online shop) sendiri pasti lebih leluasa dalam pengembangan produk, quality control, pengembangan bisnis dan lain sebagainya.

Singkatnya, kita punya brand atau usaha yang dirintis sendiri, tidak terlalu bergantung pada satu pihak yang sangat dominan.

Tentu saja, effort dan pikiran yang dikeluarkan lebih besar karena tingkat kesulitannya lebih tinggi. Membangun pasukan reseller, membangun tim, melakukan branding, manajemen SDM pasti butuh kegigihan dan kerja keras.

5. Influencer & Content Creator

Pernah dengar istilah “content is the king”?

Nampaknya, ada benarnya juga. Zaman sekarang, kita sangat membutuhkan konten untuk banyak hal seperti memberikan informasi, promosi, bahkan untuk personal branding.

Jika kontennya berkualitas, pasti akan menarik perhatian banyak orang. Bahkan, beberapa konten bisa menjadi viral sehingga menghasilkan sumber trafik yang banyak.

Karena itulah, saat ini muncul bisnis yang menjual konten baik itu berupa agency ataupun media itu sendiri. Contohnya Social Kreatif, Makna Creative, dan Indovisualgram.

Selain itu, ada juga yang mengandalkan personal branding untuk meng-influence banyak orang. Mereka-mereka ini yang sering disebut dengan influencer.

Mereka memiliki banyak massa / pengikut yang sangat aktif berinteraksi di media sosial. Dengan jumlah massa yang banyak itulah, mereka bisa memonitizenya menjadi mesin penghasil uang.

Kalau di Instagram misalnya, influencer bisa melakukan kemitraan berbayar dengan pihak lain (lebih dikenal dengan paid promote / endorse).

Semakin banyak pengikut influencer tersebut, semakin tinggi pula tarif yang dipatok. Artis atau selebgram yang punya jutaan pengikut bisa menghasilkan jutaan rupiah hanya untuk sekali posting.

Tentu, ini bisa dijadikan ladang bisnis yang berkelanjutan jika bisa memaksimalkannya.

Nah itulah kiranya perkembangan bisnis online di Indonesia. Sangat menarik bukan? Sekarang kita bisa menemukan jenis atau model bisnis baru yang cukup bagus prospeknya.

Banyak juga orang yang dulunya bukan siapa-siapa, sekarang bisa jadi milyarder berkat bisnis online yang digelutinya.

Rifa Seorang blogger dan internet marketer asal Sumedang, Jawa Barat. Saat ini aktif mengelola beberapa blog dan berjualan produk fashion secara online.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *